News

Viktor Axelsen: Bersinar Sejak Junior, Berkibar di Level Senior

By: admin | 2017-09-29 19:08:42


 
 

Viktor won World Championships 2017
Sumber: Xinhua

Badmintalk.com – Viktor Axelsen tak berhenti membuat bangga publik Denmark dan Eropa pada umumnya. Beberapa prestasinya dua tahun terakhir semakin menunjukkan kualitas dan kapasitasnya sebagai tunggal putra kelas dunia. Pekan ini, Viktor baru saja menduduki ranking satu dunia, belum lama setelah ia sukses menjadi juara dunia bulan Agustus lalu dan memenangkan Japan Open Superseries di bulan September.

Titel sebagai tunggal putra nomor satu dunia tentu pantas disandang Viktor setelah beberapa “sejarah” ia ciptakan. Medali perunggu Olimpiade Rio 2016 yang berhasil diraihnya merupakan hasil terbaik bagi tunggal putra Eropa setelah 20 tahun. Tunggal putra Eropa yang terakhir kali sukses naik podium olimpiade bahkan dengan emas yaitu Poul-Erik Hoyer Larsen di Atlanta 1996. Setelah itu, tak ada satu pun tunggal putra Eropa yang mampu naik podium olimpiade. Meskipun “hanya” perunggu, ini menjadi salah satu pencapaian terbaik Viktor mengingat saat itu usianya masih 22 tahun. Perunggu yang direbut Viktor pun terasa semakin manis setelah ia mengalahkan peraih dua kali emas olimpiade, Lin Dan.

“Gebrakan” lain yang dicatat Viktor adalah menjadi kampiun di ajang BWF World Superseries Finals 2016 di Dubai. Semenjak Superseries Finals dimulai tahun 2008, tak ada satu pun tunggal putra Eropa yang mampu menjuarai turnamen ini. Sebelumnya, Viktor juga tembus babak final turnamen penghujung tahun ini pada 2015 sebelum akhirnya kalah dari Kento Momota. Tak puas menjadi runner up, Viktor sukses mengkonversikan gelarnya menjadi juara di tahun 2016 setelah mengandaskan Tian Houwei. Titel ini merupakan gelar superseries pertama bagi Viktor setelah beberapa kali ia melaju ke babak final turnamen kelas superseries. Viktor mampu melampaui pencapaian para seniornya yang juga pernah melangkah ke babak final namun gagal menjadi juara seperti Peter Gade di tahun 2008 dan 2010 serta Hans-Kristian Vittinghus di tahun 2014. Di saat para seniornya gagal mengakhiri ajang Superseries Finals dengan gelar juara, Viktor yang masih muda tampil dengan meyakinkan dan mampu berbicara lebih.

Tahun 2017 menjadi saksi dimana kiprah Viktor semakin diakui dunia. Viktor mengawali tahun dengan menjadi kampiun India Open Superseries 2017. Gelar di India begitu spesial bagi Viktor karena dalam tiga tahun terakhir ia selalu melangkah ke babak final India Open. Tahun 2015, Viktor kalah dari andalan tuan rumah, Srikanth Kidambi. Kento Momota menjegal langkah Viktor di tahun 2016. Akhirnya, di tahun 2017 kerja keras Viktor berbuah manis dengan meraih gelar Superseries keduanya setelah di babak final mengalahkan Chou Tien Chen. 

Berbekal gelar dari India, Viktor hadir di Kejuaraan Dunia sebagai unggulan ketiga. Sesuai skenario, Viktor melangkah ke babak semifinal. Di luar dugaan, Viktor mengandaskan juara bertahan sekaligus peraih emas Rio 2016, Chen Long. Tampil dengan sangat impresif, Viktor berhasil membalas kekalahannya atas Chen Long di babak semifinal Rio 2016. Kalah dengan cukup “mudah” di Rio 2016, Viktor mampu menang dengan lebih “mudah” dari Chen Long di major event lainnya, Total BWF World Championships 2017. Skor meyakinkan didapat Viktor, 21-9, 21-10. Melaju ke babak final Kejuaraan Dunia untuk pertama kalinya, Viktor dihadang pemegang gelar juara dunia terbanyak, Lin Dan. Jika di perebutan medali perunggu Rio 2016, pertandingan berjalan cukup ketat dalam tiga game, maka di final Kejuaraan Dunia tahun ini Viktor berhasil mengakhiri pertandingan dengan straight game, 22-20, 21-16. Sama seperti pencapaiannya di Rio 2016, Viktor menciptakan sejarah baru di Kejuaraan Dunia 2017. Tunggal putra Eropa yang terakhir kali berhasil menjadi juara dunia yaitu Peter Rasmussen di tahun 1997. Artinya publik Denmark dan Eropa pada umumnya telah menunggu juara dunia baru di sektor tunggal putra selama 20 tahun. Dan, Viktor lah pencipta sejarah itu.

Menyandang gelar juara dunia, Viktor tampil dengan kematangan dan kepercayaan diri yang tinggi di Japan Open Superseries 2017. Menghadapi Srikanth di babak perempat final, Viktor menang, 21-17, 21-17. Berjumpa Son Wan Ho yang saat itu memegang tahta ranking satu dunia, Viktor menang, 21-16, 21-16. Di babak final, Viktor dihadang legenda bulutangkis Malaysia, Lee Chong Wei. Berkesempatan mengakhiri pertandingan dalam dua game, Viktor dipaksa Lee Chong Wei bermain rubber set sebelum akhirnya Viktor menang melalui duel kelas dunia yang apik disaksikan. Gelar Superseries ketiga ini sekaligus memperbaiki hasil Viktor yang diraihnya di Japan Open 2015 di mana ia kalah dari Lin Dan di babak final dan di tahun 2016 ia terhenti di babak perempat final.

Hasil di Japan Open menasbihkan Viktor sebagai tunggal putra nomor satu dunia yang baru. Viktor sukses menggeser Son Wan Ho dan mantap bertengger di ranking satu dengan poin yang meyakinkan. Pencapaian ini kembali menjadi prestasi terbaik Viktor dan sejarah baru lagi bagi Denmark maupun Eropa, mengingat tunggal putra Eropa yang terakhir kali menduduki ranking satu dunia di era Superseries adalah Peter Gade di tahun 2006. Setelah selama 11 tahun tahta itu dipegang tunggal putra Asia, akhirnya Viktor sukses mematahkan dominasi tersebut.


Superior” Sejak Junior
Jika ditilik lebih jauh, apa yang dicapai Viktor saat ini ternyata buah dari apa yang sudah diupayakannya sejak berkompetisi di level junior. Viktor yang lahir pada 4 Januari 1994 di kota yang melahirkan banyak pebulutangkis kelas dunia, Odense; mulai dikenalkan olah raga tepok bulu oleh sang ayah sejak usia 6 tahun. Dua tahun mendalami bulutangkis, Viktor semakin sadar bahwa olah raga ini merupakan passion-nya. Tak heran jika sejak usia 8 tahun Viktor sudah aktif mengikuti kejuaraan, baik lokal mapun nasional. Di umur 15 tahun, Viktor berlaga di turnamen internasional pertamanya. Viktor yang masih belia langsung mencicipi panggung superseries di rumah sendiri, Denmark Open 2009. Saat itu, Viktor memang langsung tersungkur di babak kualifikasi, namun hal itu tak membuatnya kecil hati. Viktor muda tetap melangkah melanjutkan karirnya yang masih seumur jagung.

Gagal di Denmark Open 2009, Viktor sukses meraih gelar di ajang European U17 Badminton Championships 2009 setelah di babak final mengalahkan kompatriotnya, Kim Bruun. Di tahun 2010, karir junior Viktor makin menanjak dengan menjuarai Kejuaraan Dunia Junior. Medali emas dan gelar juara dunia junior didapat Viktor setelah di babak final mengalahkan pemain Korea Selatan, Kang Ji-Wook. Sukses menjadi juara dunia junior, Viktor dipanggil masuk tim nasional (timnas) Denmark dan mulai bergabung sejak September 2010. Gelar perdana Viktor sebagai pemain timnas didapat di ajang Cyprus International 2010, tepat sebulan setelah ia masuk timnas. 

Viktor at WJC 2010
Sumber: Yonex

Viktor memulai tahun 2011 dengan meraih medali emas di ajang European Junior Badminton Championships di bulan April setelah di babak final mengalahkan kompatriotnya, Rasmus Fladberg. Sebulan kemudian, ia sukses menjuarai Spanish Open dengan mengalahkan pemain senior dari tuan rumah, Pablo Abian. Meskipun “hanya” gelar di level international challenge, namun pencapaian ini menjadi batu loncatan bagi Viktor untuk terus berprestasi. Di Kejuaraan Dunia Junior 2011, sebenarnya Viktor kembali tembus babak final, namun ia harus puas dengan medali perak setelah di babak final kalah dari tunggal Malaysia, Zulfadli Zulkiffli dengan skor ketat, 18-21, 21-9, 19-21. 

Tahun 2012, Viktor mulai mampu berbicara lebih di level superseries. Sama sekali tak diunggulkan, di luar dugaan Viktor melaju jauh hingga babak final French Open Superseries. Tampil di babak final turnamen superseries untuk pertama kali tampaknya menjadi beban bagi Viktor. Meskipun akhirnya kalah dari tunggal Malaysia, Daren Liew, namun pencapaian Viktor patut mendapatkan kredit tersendiri, pasalnya di usianya yang masih 18 tahun, Viktor mampu melangkah ke babak final setelah di babak-babak sebelumnya ia mengalahkan pemain unggulan seperti Kenichi Tago dan Wang Zhengming. 

Viktor muda masih haus akan gelar juara. Di tahun 2013, ia sukses mengoleksi dua gelar international challenge di Dutch International dan Denmark International. Viktor juga sukses menjuarai turnamen invitasi dari negara sendiri, Copenhagen Masters. Di laga perdana, ia mengalahkan pemain senior Thailand, Boonsak Ponsana. Sementara di babak final, Viktor sukses mengandaskan pemain veteran Korea Selatan, Lee Hyun Il. 

Tahun 2014 menjadi saksi prestasi Viktor di level senior. Di usianya yang ke-20 tahun, Viktor menjuarai turnamen level Grand Prix Gold (GPG) pertamanya di Swiss Open. Di turnamen ini, Viktor mengalahkan pemain senior seperti Rajiv Ouseph, Jan O. Jorgensen, dan Tian Houwei. Melawan Tian Houwei di babak final, mental Viktor diuji. Bermain tiga game, bahkan dengan adu setting menguji kematangan mental Viktor. Di babak ketiga, Viktor tertinggal 18-20. Dengan ketenangannya, Viktor mampu menyamakan kedudukan dan memaksakan terjadinya deuce. Pertandingan yang berlangsung sengit melatih psikis Viktor di poin-poin kritis hingga akhirnya ia mampu menutup laga dengan skor akhir 21-7, 16-21, 25-23. Selain gelar GPG di Swiss, Viktor kembali menjuarai Copenhagen Masters di tahun 2014 setelah mengalahkan Tommy Sugiarto di laga perdana dan Jan O. Jorgensen di laga akhir.

Viktor tampil konsisten di turnamen superseries sepanjang tahun 2015. Empat kali ia tembus babak final kendati harus puas sebagai runner up. Di India Open, Viktor dikalahkan Srikanth Kidambi. Chen Long menjadi batu sandungan Viktor di Australian Open. Sementara di Japan Open, giliran Lin Dan menghalangi Viktor merebut gelar superseries pertamanya. Sedangkan di turnamen penutup tahun, BWF World Superseries Finals, Viktor kalah dari Kento Momota. Kekalahan Viktor di final empat superseries sedikit terobati dengan gelar Copenhagen Masters ketiganya.

Selain medali perunggu Rio dan gelar Superseries Finals, tahun 2016 dilengkapi Viktor dengan menjadi Juara Eropa untuk pertama kalinya. Karir yang dibangun Viktor sejak usia dini memang mulai menunjukkan hasil yang memuaskan. Jika di tahun 2014 dan 2015 Viktor selalu kalah di laga final superseries yang dilakoni, maka di tahun 2017 ini sudah dua gelar ia raih di India dan Jepang.


Perpaduan Kematangan Teknik, Kedewasaan, dan Kerendahan Hati
Ditempa sejak usia 6 tahun telah membentuk karakter dan mental Viktor. Belajar dari banyak kekalahan yang dialami, belajar dari pemain-pemain kelas dunia lainnya, Viktor terus belajar bagaimana ia mampu tampil sejajar, bahkan lebih. Bukan sebatas motivasi untuk menang, bukan sekadar ingin mengalahkan, namun mindset yang coba dibangun Viktor lebih kepada bagaimana ia terus menggali banyak ilmu dan pengalaman dari pemain sekelas Lin Dan, Lee Chong Wei, Chen Long, dan tunggal terbaik dunia lainnya. Seiring berjalannya waktu, Viktor membuktikan bahwa ia mampu mengimbangi permainan pemain elite dunia.

Berjumpa Chen Long sejak 2012, Viktor selalu kalah dan baru menang satu kali di Dubai World Superseries Finals 2015. Berjumpa lagi di turnamen penting, Viktor sukses mengalahkan Chen Long di babak semifinal Kejuaraan Dunia 2017. Viktor memang masih kalah rekor head to head atas Chen Long, 2-9, namun kemenangan terakhirnya tentu akan menjadi modal besar bagi Viktor di turnamen-turnamen selanjutnya.

Sedangkan dengan Lee Chong Wei, Viktor telah “belajar” dari andalan Malaysia itu sejak tahun 2011. Sembilan kali kekalahan beruntun selama lima tahun memotivasi Viktor untuk menemukan formulasi yang tepat untuk mengalahkan Lee Chong Wei. Tepat di pertemuan kesepuluh, Viktor sukses mengalahkan Lee Chong Wei di turnamen Dubai World Superseries Finals 2016. Sekali mengalahkan Lee Chong Wei, rasanya membuat Viktor “ketagihan” menghentikan langkah Lee Chong Wei. Terbukti, pertemuan terakhir mereka dimenangkan Viktor di babak final Japan Open Superseries 2017. Sama seperti rekor head to head atas Chen Long, Viktor masih tertinggal 2-9 dari Lee Chong Wei. Namun, dua kemenangan terakhir Viktor akan menjadi bekal baginya untuk terus bermain taktis.

Hasil lebih baik didapat Viktor atas Lin Dan. Dari tujuh kali pertemuan, Viktor unggul dengan empat kemenangan. Dan, kemenangan terakhir di babak final Kejuaraan Dunia 2017 tentu semakin meningkatkan kepercayaan diri Viktor.

Pelajaran yang didapat Viktor saat menghadapi pemain elite dunia akan menjadi bekal berharga bagi masa depan karirnya, mengingat lawan-lawan Viktor nantinya bukan lagi Lin Dan, Lee Chong Wei, ataupun Chen Long; melainkan pemain-pemain muda seperti Kento Momota yang mulai aktif bermain di turnamen internasional setelah skorsing-nya berakhir ( baca juga http://badmintalk.com/news/Kento-Momota-Pudar-di-Saat-Mulai-Bersinar.htm ) atau bahkan andalan Indonesia seperti Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, dan Ihsan Maulana Mustofa. 

Yang bisa diteladani dari seorang Viktor adalah bagaimana ia terus mematangkan segala “atribut” permainannya. Dimulai sejak aktif di turnamen junior, Viktor terus mengasah teknik dan skill-nya. Terbiasa menghadapi pemain elite dunia “memaksa” Viktor bagaimana ia harus memiliki stroke kelas dunia yang taktis untuk mengimbangi lawan, bahkan menghasilkan poin. Kematangan teknik Viktor pun kini mulai terlihat dengan berbagai macam serangan yang variatif, smash tajam, drop shot yang cantik, serta netting halus yang kerap menyulitkan lawan dan menghasilkan poin. 

Bukan hanya teknik dan skill, kematangan mental dan psikologis Viktor juga sangat diperhatikan. Kerap emosi di lapangan membuat Viktor kehilangan fokus. Untuk mengatasinya, Viktor pun memiliki psikolog yang membantu mematangkan kedewasaannya. Tak jarang, sang psikolog turut serta mendampingi Viktor saat bertanding untuk terus menjaga mood-nya. Kondisi psikologis yang terus dijaga pada level terbaiknya ternyata mempengaruhi Viktor dalam menjaga fighting spirit sekaligus ketenangan di lapangan.

Digembleng dan ditempa dari segala aspek telah membentuk karakter Viktor yang semakin matang dan tenang, tidak hanya di lapangan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Di luar lapangan, Viktor merupakan sosok yang sangat bersahabat dengan media dan para penggemarnya. Medali perunggu Rio 2016 dan juara dunia 2017 pun tak membuat Viktor tinggi hati. Ia tetap rendah hati dan dengan senang hati menyambut media dan penggemarnya. Bahkan, untuk lebih dekat dengan media dan penggemarnya dari Tiongkok, Viktor belajar Bahasa Mandarin dengan intensif hingga kini ia cukup fasih berbahasa Mandarin, baik secara lisan maupun tulisan.

Prestasi Viktor memang belum begitu gemilang. Ia memang belum meraih medali emas olimpiade. Ia memang baru sekali menjadi juara dunia. Ia memang baru tiga kali menjuarai turnamen superseries. Prestasinya memang belum sehebat Lin Dan, Lee Chong Wei, maupun Chen Long. Namun, perjalanan Viktor dari level junior dalam membentuk dirinya sebagai pemain kelas dunia patut diapresiasi, diteladani, sekaligus diwaspadai. 

Viktor won Bronze Rio 2016
Sumber: Xinhua

Perjalanan karir Viktor masih sangat panjang. Ia masih memiliki banyak kesempatan untuk meraih gelar-gelar bergengsi lainnya. Jika di Rio 2016 ia mampu merebut medali perunggu, bukan tidak mungkin ia akan mengkonversikan medalinya ke warna emas di Tokyo 2020. Jika ia baru sekali menjadi juara dunia, bukan tidak mungkin ia akan meraih gelar itu berkali-kali. Jika hingga kini ia baru mengoleksi tiga gelar superseries, bukan tidak mungkin ia akan mendulang puluhan gelar superseries. Semua itu tidak lah mustahil jika melihat performa Viktor yang semakin dewasa dan matang. Terus lah berprestasi, Viktor Axelsen. Terus lah menjadi kebanggaan Denmark dan Eropa. Terus lah menjadi panutan bagi pebulutangkis-pebulutangkis muda di seluruh dunia. Tetap lah rendah hati dan menginspirasi. (WBW/BT)

News