News

Terbatasnya Siaran Langsung Bulutangkis, Siapkah Masyarakat Indonesia?

By: admin | 2018-01-14 11:12:32


 
 

@gambar1
Sumber: Kompas TV

Badmintalk.com – Badminton World Federation (BWF) membuat sejumlah regulasi baru yang mulai diterapkan di tahun 2018 ini. Beberapa perubahan seperti penamaan dan struktur turnamen, aturan servis, jumlah turnamen yang harus diikuti pemain, hingga aturan penayangan siaran langsung berdampak tidak hanya bagi pemain tetapi juga para pecinta bulutangkis. 

Terkait aturan penayangan siaran langsung pertandingan, BWF meminta tuan rumah penyelenggara turnamen level 2, 3, dan 4 untuk memperpanjang durasi siaran langsung dengan ketentuan berikut:

  1. Turnamen level 2 harus disiarkan dengan total 45 pertandingan (10 pertandingan di babak pertama, 10 pertandingan di babak kedua, 10 pertandingan di babak perempat final, 10 pertandingan di babak semifinal, dan 5 pertandingan di babak final).
  2. Turnamen level 3 harus disiarkan dengan total 29 pertandingan (8 pertandingan di babak kedua, 8 pertandingan di babak perempat final, 8 pertandingan di babak semifinal, dan 5 pertandingan di babak final).
  3. Turnamen level 4 harus disiarkan dengan total 25 pertandingan (10 pertandingan di babak perempat final, 10 pertandingan di babak semifinal, dan 5 pertandingan di babak final).

Bagi pecinta bulutangkis yang mudah mendapatkan akses untuk menonton pertandingan di setiap turnamen, tentu akan dimanjakan dengan penambahan durasi siaran langsung tersebut. Akses yang dimaksud adalah siaran langsung di televisi baik yang berbayar maupun tidak dan melalui layanan streaming.

Selama ini, pecinta bulutangkis Indonesia bisa menikmati siaran langsung bulutangkis di Kompas TV. Sejak FOX Sports tidak lagi menayangkan siaran langsung turnamen bulutangkis per 1 Juli 2017, Kompas TV menjadi andalan di mana masyarakat bisa menyaksikan siaran langsung bulutangkis secara gratis. 

Mulai tahun 2015, Kompas TV menayangkan Dubai Superseries Finals. Di tahun itu pula Indonesia Masters dan Kejuaraan Dunia disiarkan Kompas TV. Tahun 2016, Kompas TV menayangkan lebih banyak pertandingan dengan 10 turnamen superseries, Indonesia Masters, Thomas-Uber Cup, dan Dubai Superseries Finals. Sementara di tahun 2017, selain 11 turnamen superseries dan Dubai Superseries Finals, Kompas TV juga menyiarkan langsung major events lainnya seperti Kejuaraan Dunia, Kejuaraan Dunia Junior, dan Sudirman Cup.

Meskipun belum sepenuhnya bisa diakses oleh masyarakat di seluruh penjuru Indonesia, namun hadirnya Kompas TV sebagai “house of badminton” sudah menjadi pelepas dahaga bagi pecinta bulutangkis tanah air yang selama ini sulit mendapatkan akses siaran langsung. 

Di sisi lain, aturan baru durasi siaran langsung dari BWF sepertinya menjadi kabar buruk bagi pecinta bulutangkis Indonesia yang selama ini mengandalkan Kompas TV. Selama ini, idealnya official broadcaster menayangkan 5 pertandingan di setiap babak atau 10 pertandingan untuk turnamen tertentu seperti Kejuaraan Dunia. Kini, penyelenggara ofisial turnamen dan TV harus menayangkan 8 hingga 10 pertandingan setiap harinya (5 pertandingan di babak final). 

Adanya aturan baru tersebut ditambah dengan perubahan sturktur turnamen membuat banyak official broadcaster mundur untuk menayangkan siaran langsung bulutangkis akibat mahalnya hak siar, tak terkecuali Kompas TV.

Sebenarnya sejak akhir tahun 2017 Kompas TV sudah berupaya untuk dealing hak siar, namun hingga kini belum ada kesepakatan pasti. Penawaran telah diajukan Kompas TV menyusul mahalnya hak siar yaitu dua kali lipat dari harga hak siar di tahun 2017. Alhasil, Kompas TV baru bisa memastikan akan menayangkan Indonesia Masters yang akan berlangsung pada 23-28 Januari 2018. Selain itu, kemungkinan Kompas TV akan menayangkan Thomas-Uber Cup, meskipun masih menunggu kesepakatan pasti.

Kabar yang cukup “buruk” ini tentu menghantui masyarakat Indonesia yang selama ini menjadikan Kompas TV sebagai saluran utama untuk menikmati pertandingan bulutangkis secara langsung dan gratis. Pecinta bulutangkis tanah air sempat merasakan era di mana mereka kesulitan menyaksikan pertandingan bulutangkis. Tidak semua masyarakat berlangganan TV berbayar ataupun mampu untuk streaming. Kehadiran Kompas TV menjadi pelipur lara pecinta bulutangkis Indonesia selama 3 tahun belakangan.

Kini, masyarakat harus siap dengan kemungkinan sedikitnya atau terbatasnya siaran langsung bulutangkis yang bisa disaksikan di rumah secara gratis. Jumlah pecinta bulutangkis yang selama ini mengandalkan Kompas TV sepertinya jauh lebih banyak dari mereka yang berlangganan TV berbayar atau streaming.

Upaya BWF untuk “menduniakan” bulutangkis dengan perubahan penamaan dan struktur turnamen serta bertambahnya durasi siaran langsung sepertinya justru merugikan para pecinta bulutangkis, tak terkecuali masyarakat Indonesia yang selama ini bergantung pada Kompas TV sebagai TV nasional yang secara gratis menayangkan pertandingan bulutangkis.

Akan ada sederet turnamen penting di tahun 2018. Sangat disayangkan jika pecinta bulutangkis tanah air tidak dapat menjadi saksi prestasi pemain dalam negeri. Terbatasnya siaran langsung bulutangkis akan berdampak pada semakin banyaknya masyarakat yang tidak dapat menyaksikan perjuangan para pahlawan bulutangkis untuk menyumbang gelar. Hal ini kita harapkan tidak menyurutkan semangat pecinta bulutangkis Indonesia untuk terus mendukung dan mendoakan atlet kita dalam meraih gelar-gelar bergensi dan mengharumkan bangsa dan negara di mata dunia. (WBW/BT)

News