News

Pria Asal Surabaya Ini Dipercaya Menangani Pebulutangkis Junior Australia

By: admin | 2017-10-16 18:04:48


 
 

Brian Koentjoro
Sumber: Badmintalk

Badmintalk.com – Dari sekian banyak tim pelatih dan official yang mendampingi atlet junior di ajang World Junior Championships (WJC) 2017, Brian Koentjoro merupakan figur yang menarik untuk dibahas. Ya, mungkin nama Brian Koentjoro masih asing di telinga kita. Namun, dia lah sosok yang melatih sekaligus mendampingi pebulutangkis junior Australia di WJC 2017 yang dihelat di GOR Amongrogo, Yogyakarta.

Tim Badmintalk berkesempatan mewawancarai Brian di sela-sela kesibukannya mendampingi pebulutangkis junior Australia di GOR Amongrogo. Ada banyak hal menarik yang didapat dari hasil obrolan ringan yang begitu akrab antara Tim Badmintalk dengan Brian. Pria berusia 30 tahun ini lahir dan besar di Surabaya, Jawa Timur. Dari SD hingga SMA, ia sekolah di Surabaya. Brian hijrah ke Australia untuk melanjutkan studi di University of Sydney.

Brian mulai tertarik dengan olahraga tepok bulu sejak usia dini. Ia pun bergabung dengan klub Suryanaga Surabaya. Sering bermain bulutangkis dan latihan di klub itu membuat Brian semakin jatuh cinta dengan bulutangkis. Hingga ia kuliah di negeri kangguru, bulutangkis masih menjadi salah satu passion-nya.

Kiprah Brian sebagai pelatih dimulai dengan melatih secara privat untuk para siswa sekolah. Tahun 2011, ia mulai melatih tim bulutangkis tingkat universitas. Setahun kemudian, Brian dipercaya menjadi pelatih pebulutangkis junior di New South Wales. Puncak prestasi Brian sebagai pelatih junior di negara bagian itu adalah membawa tim juniornya menjuarai kejuaraan nasional Australia di tahun 2016. Brian sukses mengantarkan anak didiknya menjuarai semua kelompok usia 15, 17, dan 19. Hasil positif ini lah yang kemudian menarik pelatnas Australia untuk meminang Brian untuk melatih atlet junior nasional. Tahun 2017 ini menjadi awal kiprah Brian sebagai pelatih pelatnas junior Australia.

 

Melatih Junior Australia Harus Seefektif Mungkin
Brian mengungkapkan perbedaan mencolok antara bulutangkis Australia dan Indonesia. Jika di Indonesia terdapat pemusatan pelatihan nasional, maka pelatihan di Australia ditangani oleh masing-masing negara bagian. Ada istilah semacam desentralisasi, di mana setiap negara bagian bertanggung jawab menaungi pemain atau klub masing-masing, bukan terpusat seperti di Indonesia.

Yang menarik, semua atlet junior di Australia adalah student athlete, tidak ada satu pun pemain yang seratus persen atlet. Kondisi ini mengharuskan atlet untuk lebih fokus ke pendidikan atau sekolahnya sehingga waktu untuk latihan bulutangkis sangat lah terbatas. Untuk ukuran pemain “top” saja, waktu latihan hanya 4-5 kali dalam seminggu, itupun hanya satu sesi. Keadaan ini lah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Brian, bagaimana ia harus melatih seefektif mungkin dan tidak boleh menyia-nyiakan waktu.

 

Target di WJC 2017
Untuk event beregu, Brian memasang target kepada tim juniornya untuk masuk Top 30. Sayangnya, tim junior Australia harus puas berada di urutan ke-35. Menurut Brian, hal ini disebabkan cederanya tunggal putri, Lauren Lim dan tidak maksimalnya penampilan ganda campuran, Maggie Chan/Marcus Kong saat melawan Hungaria. Alhasil, mereka kalah tipis 2-3. Berada di urutan ke-35 tentu tidak lah memuaskan bagi Brian dan timnya. Namun, mereka tetap bersyukur dan akan terus giat berlatih.

Untuk target di event individu, Brian berharap tunggal dan ganda putra bisa melangkah jauh. Dua nomor ini lah yang menurut Brian dirasa dapat memberikan hasil maksimal. Harapannya, baik tunggal maupun ganda putranya bisa melaju hingga babak ketiga atau bahkan 16 besar.

 

WJC 2017 di Yogyakarta, Istimewa
Brian dan tim juniornya begitu senang saat mengetahui WJC 2017 bakal digelar di Indonesia. Mereka begitu antusias bertanding di Indonesia karena atmosfir bulutangkisnya yang luar biasa. Para atlet junior Australia pun sangat senang karena mereka bertanding dalam kejuaraan besar di negara yang sangat terkenal dengan bulutangkisnya. 

Adapun tentang penyelenggaraan WJC 2017, Brian memuji panitia yang begitu baik dalam mengelola segala atribut dan fasilitas pendukung. Tak hanya itu, Brian juga sangat antusias dengan gala dinner yang dihelat di Candi Prambanan. Menurutnya, acara yang berlangsung di hari Minggu (15/10/2017) itu sangat sempurna karena menampilkan budaya seperti tarian tradisional yang dikemas secara kontemporer dengan latar belakang Candi Prambanan yang begitu indah.

Brian Koentjoro, pria yang 12 tahun menetap di Sydney ini merupakan sosok yang sangat menginspirasi. Tekadnya begitu besar untuk memajukan bulutangkis Australia, negara yang notabene tidak begitu bersinar dalam olahraga bulutangkis. Di tengah sulitnya mengembangkan bulutangkis di Australia, Brian berharap dedikasi dan pengorbanannya membuahkan hasil. Kita doakan Brian untuk bisa selalu memberikan yang terbaik dan terus berusaha membumikan bulutangkis di negeri kangguru. Semangat, Brian! (WBW-SW/BT)
 

News