News

Pelajaran dari Tiongkok, Unggulan Sembilan yang Boyong Piala Suhandinata Untuk Ke-12 Kalinya

By: admin | 2017-10-14 22:17:54


 
 

China won the Suhandinata Cup for the 12 times
Sumber: www.badmintonindonesia.org

Badmintalk.com – Tiongkok sukses mempertahankan gelar Suhandinata Cup atau Kejuaraan Dunia Junior beregu campuran setelah mengandaskan Malaysia di babak final, Sabtu (14/10/2017). Laga yang berlangsung di GOR Amongrogo Yogyakarta itu berlangsung cukup ketat setelah Tiongkok sempat tertinggal di partai pertama. Di luar dugaan, Man Wei Chong/Pearly Tan Koong Le terlebih dahulu berhasil menyumbang poin bagi Malaysia setelah di pertandingan pembuka mengalahkan Fan Qiuyue/Li Wenmei dengan skor 21-12, 9-21, 21-17.

Tiongkok mampu menyamakan kedudukan setelah tunggal putranya, Gao Zhengze sukses mencuri poin dari Juara Asia Junior 2017, Leong Jun Hao dengan skor 21-14, 21-18. Di partai ketiga, Tiongkok berbalik unggul 2-1 setelah ganda putranya, Fan Qiuyue/Wang Chang mengalahkan Chang Yee Jun/Ng Eng Cheong. Laga ketiga ini berlangsung cukup ketat. Sempat terjadi kejar-kejaran poin di game pertama, bahkan di game kedua ganda Malaysia selalu unggul dari 13-8 hingga 17-15. Namun, bukan pemain Tiongkok jika tidak menunjukkan mental yang matang. Tak mau mengulangi kegagalannya di nomor ganda campuran, Fan Qiuyue tampil taktis hingga mampu menyamakan kedudukan 17-17, mengunci Malaysia di poin 17 dan mengakhiri pertandingan dengan skor 21-19, 21-17.

Partai keempat berlangsung sengit karena merupakan laga hidup dan mati bagi Malaysia sekaligus penentu bagi kemenangan Tiongkok. Pertandingan ini juga semakin seru karena baik Tiongkok maupun Malaysia sama-sama memainkan tunggal putri terbaiknya. Malaysia mengandalkan peraih medali emas SEA Games 2017, Goh Jin Wei. Sementara Tiongkok menurunkan Han Yue yang baru saja menjadi Juara Asia Junior 2017. Di event individu pada World Junior Championships (WJC) atau Eye Level Cups tahun ini, kedua tunggal putri tersebut masuk daftar unggulan. Goh Jin Wei diunggulkan di tempat keempat, sedangkan Han Yue merupakan unggulan kelima.

Benar saja, partai penentuan pun berlangsung ramai. Han Yue tampil impresif dan mengamankan game pertama, 21-16. Goh Jin Wei tampil lebih tenang di game kedua hingga unggul jauh di poin 17-10 dan terlebih dahulu mencapai game point di angka 20-14. Unggul 6 poin sempat membuat Goh Jin Wei lengah. Kondisi ini dimanfaatkan Han Yue hingga ia dapat memaksakan adu setting. Enam poin beruntun yang didapat Han Yue tak mampu membantunya mengakhiri pertandingan dalam dua game. Sebaliknya, Goh Jin Wei berhasil keluar dari tekanan dan memaksakan terjadinya rubber set setelah menutup game kedua, 22-20.

Diharapkan dapat memperpanjang nafas Malaysia, nyatanya Goh Jin Wei justru tampil antiklimaks di game penentuan. Bermain seperti kehilangan akal dan fokus, Juara Dunia Junior 2015 ini selalu tertinggal dalam perolehan poin. Tak mau menyiakan kesempatan, Han Yue bermain dengan lebih tenang dan rapi. Pemain yang bulan November nanti genap berusia 18 ini akhirnya menjadi pahlawan bagi Tiongkok untuk kembali mempertahankan Piala Suhandinata. 

Han Yue defeated Goh Jin Wei
Sumber: Humas PP PBSI

 

Belajar dari Kecerdikan Tiongkok Atur Susunan Pemain

Tak seperti kejuaraan dunia junior sebelumnya di mana Tiongkok selalu masuk dalam daftar unggulan utama, di Suhandinata Cup tahun ini Tiongkok hadir sebagai unggulan sembilan. Bahkan, Tiongkok harus berada dalam satu group dengan tim tangguh lainnya seperti Chinese Taipei, Denmark, dan Hong Kong. Namun, bukan Tiongkok namanya jika tidak menunjukkan superioritasnya. Denmark dan Hong Kong sama-sama dilibas 5-0. Sementara Chinese Taipei dikalahkan 4-1.

Di babak perempat final, Tiongkok dihadang unggulan kedua sekaligus tuan rumah. Untuk melawan Indonesia, dapat dikatakan Tiongkok mampu membaca pikiran Indonesia. Saat menghadapi Chinese Taipei, Tiongkok memainkan Liu Xuanxuan di ganda campuran dan putri sehingga order of play yang berlaku ganda campuran dimainkan di partai pertama dan ganda putri di partai terakhir. Kondisi ini yang kemungkinan besar menjadi pertimbangan Indonesia untuk mengatur susunan pemain saat menghadapi Tiongkok. Untuk itu, Siti Fadia Silva Ramadhanti yang diharapkan dapat mencuri poin, diturunkan di ganda campuran supaya dapat bermain di partai pertama dan tak perlu merangkap di ganda putri. Namun ternyata, Tiongkok tidak merangkapkan pemain putrinya di ganda campuran dan putri seperti saat melawan Chinese Taipei. Kondisi yang tidak sesuai dengan ekspektasi Indonesia ini membuat order of play berjalan normal dengan urutan ganda putra, tunggal putri, tunggal putra, ganda putri, dan ganda campuran.

Tiongkok sukses merebut poin pertama melalui ganda putranya, Fan Qiuyue/Wang Chang yang menang atas Muhammad Shohibul Fikri/Adnan Maulana. Meskipun Indonesia sempat menyamakan kedudukan melalui Gregoria Mariska Tunjung yang mengalahkan Han Yue di partai kedua, namun Gatjra Piliang Fiqihilahi Cupu dan Jauza Fadhila Sugiarto/Ribka Sugiarto tak mampu memperpanjang asa Indonesia. Siti Fadia yang sebenarnya sangat ingin bermain di babak perempat final itu akhirnya harus gigit jari tak dapat berjuang menyumbang poin. Skor 3-1 bagi Tiongkok mengandaskan langkah Indonesia untuk memenuhi target semifinal. 

Saat berhadapan dengan Jepang di babak semifinal, Fan Qiuyue kembali dimainkan di ganda campuran dan ganda putra. Berbeda dengan Indonesia, Jepang lebih berani menurunkan Natsu Saito di ganda campuran dan ganda putri. Alhasil, ganda campuran pun dimainkan di partai pertama dan ganda putri di partai terakhir. Namun, Tiongkok tetaplah Tiongkok. Bersama Li Wenmei, Fan Qiuyue sukses membuka laga dengan keunggulan satu poin di partai pertama setelah mengalahkan Takuma Obayashi/Natsu Saito. Sempat kehilangan poin di partai kedua setelah Bai Yupeng kalah dari Kodai Naraoka, Tiongkok sukses melaju ke final berkat kemenangan ganda putra, Fan Qiuyue/Wang Chang dan tunggal putri, Han Yue.

Utak-atik susunan pemain kembali dimainkan Tiongkok di babak final. Sadar akan kualitas Goh Jin Wei, Tiongkok memutuskan untuk menurunkan Li Wenmei bermain di ganda campuran dan putri. Dengan begitu, order of play yang berlaku adalah ganda campuran, tunggal putra, ganda putra, tunggal putri, dan ganda putri. Bukan tidak yakin dengan Han Yue, Tiongkok lebih ingin memastikan mereka dapat mengambil dua poin pertama, atau bahkan langsung 3-0. Kalaupun partai keempat harus dimainkan, setidaknya Han Yue akan tampil dengan lebih percaya diri karena keunggulan yang dimiliki timnya.

Di laga pembuka, skenario tidak berjalan dengan lancar. Di luar dugaan, ganda campuran Malaysia Man Wei Chong/Pearly Tan Koong Le mencuri poin dari Fan Qiuyue/Li Wenmei. Tiongkok pun tertinggal 0-1. Namun, Gao Zhengze, Fan Qiuyue/Wang Chang, dan Han Yue sukses menghasilkan tiga poin beruntun dan memastikan kemenangan Tiongkok. Hasil ini terasa lebih manis karena partai yang “dikhawatirkan” Tiongkok ternyata mampu dimentahkan Han Yue yang sukses “mengobrak-abrik” mental tunggal putri andalan Malaysia, Goh Jin Wei.

12 kali memboyong Piala Suhandinata tentu merupakan prestasi besar bagi Tiongkok. Sejak dimulai tahun 2000, piala itu baru tiga kali lepas dari genggaman Tiongkok yaitu di tahun 2006 dan 2013 direbut Korea Selatan serta Malaysia di tahun 2011. Prestasi ini tak lepas dari kesuksesan Tiongkok dalam mencari dan menemukan bibit-bibit berkualitas. Regenerasi pemain berjalan dengan sangat mulus. Pemain-pemain muda yang baru satu-dua tahun berkiprah di level junior kerap langsung menggebrak panggung turnamen level senior. Sebut saja Chen Qingchen/Jia Yifan yang berhasil menjadi juara dunia junior di tahun 2014 dan 2015, sukses mengkonversikan gelar juara dunianya ke level senior di tahun 2017.

Pelatih Wang Wei dalam press conference usai Tiongkok menang di babak semifinal mengiyakan bahwa tidak sulit untuk mencari bakat-bakat unggul di negeri tirai bambu itu. Di samping itu, federasi bulutangkis Tiongkok juga sangat jeli bagaimana menempa dan mendidik pemain-pemain tim nasionalnya. 

Han Yue, the decider
Sumber: www.badmintonindonesia.org

Jika diamati, sebenarnya Indonesia juga memiliki banyak talenta bulutangkis yang luar biasa. Namun, mengapa junior Indonesia belum mampu berbicara lebih untuk “sekadar” berprestasi di turnamen junior? Kejuaraan Dunia Junior menjadi barometer penting bagi prestasi pemain junior dan hal ini belum dibuktikan dengan sebagaimana mestinya oleh para junior Indonesia. Suhandinata Cup yang namanya diambil dari tokoh bulutangkis Indonesia nyatanya sama sekali belum pernah singgah di Ibu Pertiwi. Sementara di nomor individu atau Eye Level Cups, terakhir kali Indonesia merebut emas yaitu di tahun 2012.

Belajar dari Tiongkok, negara ini lewat federasi bulutangkisnya tahu dan paham betul bagaimana membentuk karakter dan mental juara pemainnya. Didikan yang “keras” sudah dimulai sejak dini sehingga menciptakan kematangan bagi pemain, tidak hanya skill dan teknik tetapi juga mental, semangat juang, serta kondisi psikologis yang lebih stabil. 

Untuk kejuaraan beregu pun Tiongkok begitu “lihai” dan jeli melihat peluang. Mulai dari Thomas-Uber Cup, Sudirman Cup, bahkan hingga Suhandinata Cup pun Tiongkok pandai mengatur strategi melalui racikan line up pemain yang begitu cerdik. Keberanian Tiongkok dalam “memaksa” pemain bermain rangkap telah terbukti membuahkan hasil ketika mereka dapat dengan bebasnya mengutak-atik susunan pemain di kejuaran beregu. Suhandinata Cup tahun ini pun menjadi bukti nyata bahwa Tiongkok tidak hanya memiliki pemain-pemain yang hebat, tetapi juga para “pemikir” yang cerdas dalam membaca situasi dan kondisi dalam setiap turnamen.

Selamat, Tiongkok. Kita tunggu kiprah negeri panda ini di Eye Level Cups yang akan dimulai tanggal 16/10/2017. Tahun lalu, Tiongkok sukses menjadi juara umum dengan menggondol empat gelar di nomor tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, dan ganda campuran. Akankah tahun ini Tiongkok bakal menyapu bersih semua gelar? Atau akankah Tiongkok berbaik hati melepas satu saja gelar bagi tuan rumah? (WBW/BT).
 

News