News

Catatan Akhir Tahun 2017: Ajang Superseries Bukan lah Panggung Sesungguhnya bagi Marcus/Kevin

By: admin | 2017-12-28 15:47:02


 
 

@gambar1
Sumber: www.badmintonindonesia.org

Badmintalk.com – Ganda putra nomor satu Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menutup tahun 2017 dengan sangat manis. Gelar BWF Dubai Superseries Finals melengkapi enam gelar superseries yang sebelumnya telah diraih sepanjang tahun ini. Menariknya, tujuh gelar superseries diraih Marcus/Kevin melalui dua kali hat-trick di awal dan akhir musim ini. Hat-trick pertama berlangsung di ajang All England, India Open, dan Malaysia Open. Kampiun di Japan Open menjadi gelar tengah musim atau titel keempat. Sementara tiga gelar terakhir didapat dengan hat-trick di China Open, Hong Kong Open, dan Dubai Superseries Finals.

Marcus/Kevin menciptakan sejarah baru. Mereka menasbihkan diri sebagai ganda putra pertama yang sukses mengoleksi tujuh titel superseries dalam satu tahun. Ganda putra nomor satu dunia ini memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang mantan ranking satu dunia dari Korea Selatan, Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong dengan enam gelar superseries di tahun 2015.

Tujuh gelar superseries diperoleh Marcus/Kevin dari sembilan final yang dilakoninya. Marcus/Kevin kehilangan dua kali kesempatan dan harus puas menjadi runner-up di Korea Open dan Denmark Open. Sembilan kali tampil di babak final superseries juga merupakan rekor baru di mana tidak ada ganda putra yang sebelumnya meraih capaian Marcus/Kevin ini. Tak heran jika mereka diganjar dengan penghargaan dari Badminton World Federation (BWF) sebagai “male player of the year”. Penghargaan ini pun menjadi yang pertama kali diperoleh pebulutangkis Indonesia.

 

Spesialis Superseries (?)
Marcus/Kevin menjadi sosok yang kemudian dielu-elukan pecinta bulutangkis Indonesia. Bagaimana tidak, pasangan yang oleh pelatih Herry Iman Pierngadi diproyeksikan untuk bersinar di tahun 2018 ini nyatanya justru sudah moncer di tahun 2017. Bahkan, di tahun 2016 Marcus/Kevin sudah mulai menunjukkan kapasitasnya dengan meraih gelar superseries pertamanya di India Open dilanjut dengan gelar di Australian Open dan China Open.

Tak butuh waktu lama sejak ditandemkan tahun 2015, Marcus/Kevin perlahan tapi pasti mulai menggeser posisi seniornya seperti Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi, bahkan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Dipisahnya Ahsan/Hendra pasca gagal di Olimpiade Rio 2016 dan semakin menurunnya performa Angga/Ricky menjadi momen diorbitkannya Marcus/Kevin. Akhir tahun 2016, mereka bertengger di ranking empat dunia sekaligus menjadi ganda putra nomor satu Indonesia. Hat-trick gelar di awal tahun 2017 mengantar Marcus/Kevin mantap menduduki peringkat satu dunia.

Perjalanan Marcus/Kevin berada pada posisi sekarang ini tidak lah mudah. Untuk berdiri di podium tertinggi, mereka harus menghadapi lawan-lawan tangguh. Dengan segala bekal yang dimiliki, Marcus/Kevin mampu mengalahkan sederet ganda putra elit dunia dari Denmark, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara lain. Dengan karakter dan gaya permainan yang khas, Marcus/Kevin menjelma menjadi kombinasi yang ditakuti.

Menjadi kampiun di turnamen superseries memang merupakan salah satu indikator kesuksesan pebulutangkis. Selain prize money yang besar, gelaran superseries menawarkan poin tinggi yang mampu mendongkrak ranking pemain. Gelar superseries menjadi salah satu yang memang pantas dibanggakan. Untuk itu, titel superseries seakan menjadi salah satu impian setiap pebulutangkis di samping gelar-gelar besar lainnya. 

Melihat prestasi Marcus/Kevin yang hingga kini telah meraih 10 gelar superseries, tentu menjadi bukti nyata kesuksesan mereka. Raihan ini menjadikan mereka sebagai ganda putra Indonesia terbaik sepanjang masa dalam perolehan gelar superseries. Marcus/Kevin mengalahkan pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang memperoleh 9 gelar superseries. Namun, perlu diingat bahwa gelar superseries saja belum lah cukup. Ranking satu dunia bukan lah tujuan utama. Masih banyak turnamen dan gelar besar lainnya yang harus diraih Marcus/Kevin, gelar yang benar-benar menjadikan mereka sebagai pahlawan olahraga bangsa dan negara, bukan sekadar spesialis superseries.

 

Menantikan Kiprah Marcus/Kevin di Turnamen Besar
Marcus/Kevin memang membuat bangga masyarakat Indonesia dengan sederet gelar superseries-nya. Mereka memang mengharumkan nama Indonesia dengan status ranking satu dunianya. Namun, Marcus/Kevin belum mengibarkan sang merah putih, belum juga menyanyikan lagu Indonesia Raya di turnamen besar seperti Kejuaraan Dunia, Asian Games dan Olimpiade.

Marcus/Kevin memang turut mengantarkan tim putra Indonesia meraih medali emas SEA Games 2015. Namun, gelar tersebut tidak lah “se-mentereng” Asian Games dan Olimpiade, pun didapat di event beregu. Di individual event, Marcus/Kevin harus puas dengan medali peraknya setelah di babak final kalah dari Angga/Ricky. 

@gambar3
Sumber: www.badmintonindonesia.org

Berjaya di ajang superseries belum tentu bersinar di ajang besar, apalagi di multi event seperti Asian Games dan Olimpiade. Belajar dari Lee Yong-daae/Yoo Yeon-seong yang sukses dengan belasan gelar superseries namun harus menelan pil pahit di turnamen besar. Lee/Yoo belum pernah menjadi juara dunia. Di kandang sendiri, Lee/Yoo kalah di babak final Asian Games 2014. Mereka pun gagal di Rio 2016. Di Thomas Cup, Lee/Yoo juga gagal mengantarkan tim Korea Selatan merebut piala.

Di babak perempat final Thomas Cup 2014, Lee/Yoo yang hadir sebagai ganda putra pertama harus kalah dari Ahsan/Hendra. Di babak semifinal Thomas Cup 2016, lagi-lagi Lee/Yoo kalah dari Ahsan/Hendra. 

Kiprah Marcus/Kevin di turnamen besar memang belum sebanyak Lee/Yoo. Marcus/Kevin tercatat baru ambil bagian di Sudirman Cup dan Kejuaraan Dunia 2017. Di laga hidup dan mati antara Indonesia lawan Denmark saat Sudirman Cup, Marcus/Kevin gagal menyumbang poin dan membuat Indonesia gagal lolos dari group stage. Marcus/Kevin yang diandalkan dan diharapkan mengantar Indonesia lolos ke babak perempat final, nyatanya kalah dari Mathias Boe/Carsten Mogensen. “Propaganda” penuh tensi yang dimainkan Marcus/Kevin justru menjadi bumerang yang membuat mereka kalah. Marcus/Kevin yang telah memenangkan game pertama dan meraih match point terlebih dahulu, tampil over confident dengan gaya khasnya yang malah membuatnya tergesa-gesa dan kalah melalui adu setting di game kedua dan ketiga. ( Baca juga http://badmintalk.com/news/Babak-Baru-Rivalitas-BoeMogensen-dan-MarcusKevin.htm )

Di ajang Kejuaraan Dunia 2017, Marcus/Kevin terhenti di babak perempat final. Dengan bekal tiga gelar superseries yang didapat di awal tahun, Marcus/Kevin diharapkan mampu meneruskan estafet yang terakhir kali diraih Ahsan/Hendra pada tahun 2015. Namun, jangankan juara, tembus babak semifinal saja tidak. Hadir sebagai unggulan ketiga, idealnya Marcus/Kevin mampu melangkah hingga semifinal. Chai Biao/Hong Wei dari Tiongkok menjegal langkah Marcus/Kevin. Terlebih dahulu merebut game pertama, Marcus/Kevin tampil di bawah tekanan dan selalu tertinggal poin di game kedua dan ketiga. Sempat menyamakan kedudukan 20-20, Marcus/Kevin tampil kurang tenang dan kalah dengan skor akhir 21-11, 19-21, 20-22. 

Superseries memang ajang yang cukup besar. Menjuarainya pun merupakan sebuah catatan prestasi tersendiri. Namun, banyaknya gelar superseries bukan lah jaminan bagi pemain untuk berbicara lebih di turnamen besar. Atmosfir Kejuaraan Dunia, Asian Games, Olimpiade, Thomas-Uber Cup, dan Sudriman Cup tentu jauh berbeda dengan turnamen superseries. Pressure dan tensi turnamen besar jauh lebih tinggi, apalagi saat harus berhadapan dengan musuh bebuyutan.

Pertemuan Marcus/Kevin dengan Boe/Mogensen di Sudirman Cup tahun ini menjadi bukti bahwa sekalipun Marcus/Kevin pernah mengalahkan ganda veteran itu, ternyata pengalaman dan kedewasaan dalam bermain jauh lebih berperan daripada sekadar skill dan semangat yang menggebu-gebu.

@gambar4
Sumber: www.badmintonindonesia.org

Tentu kita tidak mengharap hal yang dialami Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong terjadi pada Marcus/Kevin. Lee/Yoo yang superior di gelaran superseries nyatanya melempem di turnamen besar. Untuk itu, kini berbicara mengenai Marcus/Kevin tidak lagi sebatas pada teknik bermain saja. Semua sepakat bahwa Marcus/Kevin memiliki talenta dan kecerdikan bermain yang luar biasa. Namun, sekali lagi hal itu tidak lah cukup. 

Kini, menyoroti Marcus/Kevin sudah berada pada tataran bagaimana ganda muda yang kadang masih labil ini mematangkan emosi dan kedewasaannya. Mental juara dan fighting spirit tentu sudah tidak diragukan lagi. Namun, menjaga emosi dan perasaan juga harus diperhatikan, terlebih saat menghadapi lawan yang kerap menyulitkan dan menguji kesabaran.
 
Musim 2018 akan segera hadir dengan sederet turnamen besar. Saat ini, Marcus/Kevin memegang peranan vital. Pertama, mereka akan menjadi ganda putra pertama yang akan membela Indonesia di Thomas Cup. Jika pada edisi sebelumnya Indonesia harus puas berada di tempat kedua, maka tahun depan Marcus/Kevin diharapkan dapat membuka jalan bagi Indonesia untuk merebut kembali Piala Thomas.

Kedua, Marcus/Kevin diharapkan mampu menjadi juara dunia di tahun 2018. Konsistensinya akan mengantarkan mereka meneruskan tradisi prestasi ganda putra Indonesia di ajang Kejuaraan Dunia. Ketiga, estafet medali emas Asian Games juga berada di pundak Marcus/Kevin. Diselenggarakannya Asian Games di Indonesia tahun depan diharapkan menjadi motivasi tersendiri bagi Marcus/Kevin untuk menyumbangkan medali emas di hadapan publik sendiri.

Sebagai pecinta bulutangkis Indonesia sekaligus pendukung Marcus/Kevin, kita tidak perlu mengelu-elukan Marcus/Kevin. Kita tidak perlu berlebihan memuji mereka. Harapan boleh saja kita gantungkan kepada mereka. Marcus/Kevin pun tentunya sadar akan posisinya sebagai tulang punggung Indonesia. Yang kita harapkan adalah bagaimana mereka menjadikan tugasnya sebagai tanggung jawab yang harus dipenuhi, bukan sebagai beban. 

@gambar4
Sumber: www.badmintonindonesia.org

Belum genap tiga tahun Marcus/Kevin dipasangkan. Masih banyak yang harus dimantapkan, terlebih soal bagimana mereka mampu memainkan emosi dan perasaan saat di bertanding, bukan sekadar teknik permainan yang bagus. Perjalanan Marcus/Kevin masih panjang. Jika Olimpiade Tokyo 2020 menjadi target terbesar mereka, maka dalam jangka pendek ini, tahun 2018 menjadi pembuktian bagi mereka.

Apakah Marcus/Kevin mampu mengantarkan Indonesia merebut kembali Piala Thomas? Mampukah mereka menjadi juara dunia? Dan bisakah mereka menyabet medali emas Asian Games di rumah sendiri? Apakah mereka mampu mengibarkan sang merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama masyarakat Indonesia yang berada di belakangnya? All the best for you, Marcus/Kevin! (WBW/BT).
 

News