News

Catatan Akhir Tahun 2017: Agar Juara Dunia Junior Tidak Layu Sebelum Berkembang

By: admin | 2017-12-23 22:55:19


 
 

@gambar1
Sumber: www.badmintonindonesia.org

Badmintalk.com – Indonesia sukses besar dalam gelaran BWF World Junior Championships (WJC) 2017 yang berlangsung di Yogyakarta, 9 – 22 Oktober. Dari sisi penyelenggaraan, bisa dikatakan WJC tahun ini merupakan salah satu yang terbaik sepanjang gelaran turnamen terbesar di level junior ini. Hal ini pun diakui Badminton World Federation (BWF). Bagaimana tidak, para atlet dan ofisial dimanjakan dengan fasilitas lengkap, venue yang representatif dan dipenuhi penonton, ditambah dengan antusiasme dan keramahtamahan warga kota gudeg. Selain itu, partisipasi negara-negara peserta menjadikan WJC tahun ini sebagai kejuaraan dunia junior dengan peserta terbanyak di mana setidaknya 60 negara ambil bagian dalam kejuaraan ini.

WJC 2017 juga semakin istimewa dengan lekatnya unsur budaya dan sejarah di mana peserta diajak untuk mengenal batik dan tari tradisional, mendapatkan jamuan gala dinner khas Yogyakarta, dan fashion show pakaian adat Indonesia, semuanya berlangsung di warisan dunia, Candi Prambanan dalam tajuk Cultural Day. Tagline yang diusung dalam WJC tahun ini yaitu “World, Culture, and Friendship,” memang diimplementasikan dengan sempurna sejalan dengan peserta yang sangat antusias mengikuti setiap prosesi yang diselenggarakan dalam balutan persahabatan yang akrab. Panitia sukses menciptakan ikatan di antara para junior melalui Training Camp yang diadakan di Magelang, Cultural Day di Candi Prambanan, dan setiap agenda yang berlangsung di GOR Amongrogo. Alhasil, para junior dari seluruh benua begitu dekat dan bersahabat satu sama lain, begitu pula dengan para pecinta bulutangkis di Yogyakarta.

@gambar2
Sumber: www.badmintonindonesia.org

Sebagai tuan rumah, Indonesia tak hanya sukses dalam penyelenggaraan, tetapi juga sukses dari sisi prestasi. Di event beregu atau Suhandinanta Cup, tim beregu campuran junior Indonesia memang harus puas di posisi kelima setelah di babak perempat final kalah dari Tiongkok. Namun, di individual event atau Eye-Level Cups, junior Indonesia sukses menggondol dua emas melalui Gregoria Mariska Tunjung di nomor tunggal putri dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari di nomor ganda campuran. Tak hanya itu, Indonesia merupakan negara dengan wakil terbanyak di babak final, bahkan terjadi all Indonesian final di nomor ganda campuran di mana Rinov/Pitha memenangkan “perang saudara” atas Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Di sektor ganda putri, Jauza Fadhila Sugiarto/Ribka Sugiarto raih medali perak setelah di babak final kalah dari wakil Korea, Baek Ha-na/Lee Yu-rim. Indonesia keluar sebagai juara umum dengan dua emas, dua perak, dan satu perunggu yang diperoleh . 

 

Akhir Manis Kiprah Junior Gregoria
Keluarnya Gregoria sebagai juara dunia junior tahun ini bagai pelepas dahaga di tengah sepinya prestasi tunggal putri Indonesia. Meskipun “hanya” gelar di level junior, namun Gregoria mengembangkan asa dan harapan bagi Indonesia. Bagaimana pun, Gregoria adalah masa depan tunggal putri di mana seniornya seperti Fitriani dan Hanna Ramadhini belum juga menunjukkan konsistensinya. Perjuangan Gregoria di WJC 2017 pun patut mendapatkan kredit tersendiri. Ia selalu menyumbangkan poin setiap kali diturunkan di event beregu. Jalan terjal pun harus dilalui srikandi asal Wonogiri ini untuk bisa berdiri di podium tertinggi.

Di babak keempat, Gregoria sudah dihadang lawan tangguh dari Tiongkok, Wang Zhiyi. Laga rubber set yang cukup ketat berhasil dimenangkan Gregoria, 21-18, 19-21, 21-12. Langkah Gregoria cukup mulus saat bertemu Aurum Oktavia Winata di babak perempat final. Berjumpa kompatriotnya, Gregoria menang mudah, 21-10, 21-13.

Hadir sebagai unggulan ketiga, tentu sangat ideal bagi Gregoria untuk bisa melangkah ke babak semifinal. Namun, tak mudah baginya untuk lolos dari lubang jarum babak empat besar mengingat unggulan enam asal Tiongkok, Cai Yanyan menjadi lawan berat yang harus dihadapi Gregoria. Pertandingan berlangsung sengit sejak game pertama. Sempat tertinggal 10-14, Gregoria mampu menyamakan kedudukan hingga terjadi deuce dan menang 22-20. Lengah di game kedua, Gregoria kalah 13-21. Laga penuh tensi berlangsung di game penentuan. Gregoria selalu tertinggal dalam perolehan poin sejak awal game ketiga. Tertinggal jauh 3-9, Gregoria mengejar hingga berbalik unggul 12-10. Setelah itu, Gregoria mampu menjaga momentum dan keunggulan hingga menutup laga dengan skor 21-18. 

Target juara dijawab Gregoria di babak final. Ditantang Han Yue yang merupakan Juara Asia Junior 2017, Gregoria mengerahkan segala upaya untuk mempersembahkan medali emas di rumah sendiri. Tampil meyakinkan, Gregoria selalu memimpin perolehan angka dan menang cukup mudah di game pertama dengan skor 21-13. Han Yue mampu membalikkan keadaan dengan mengambil game kedua dan memaksa dimainkannya game ketiga.

Laga final tidak lah semudah ketika Gregoria menang straight set atas Han Yue di babak perempat final event beregu. Game penentuan berlangsung ketat dengan jual-beli poin. Tertinggal 0-4, Gregoria memberikan perlawanan. Setelah interval, margin poin antara kedua pemain hanya selisih satu hingga dua angka saja. Pertandingan semakin panas hingga Han Yue mencapai match point terlebih dahulu, 20-19.

Di penghujung game penentuan itu, baik Han Yue maupun Gregoria sama-sama sudah kehabisan tenaga. Riuh rendah pendukung Gregoria yang memenuhi GOR Amongrogo mampu menyuntik semangatnya hingga ia berbalik memiliki match point di angka 21-20. Han Yue menyamakan kedudukan di poin 21-21 sebelum Gregoria kembali mencapai match point keduanya, 22-21. Han Yue kembali memaksa setting di angka 22-22. Di angka krusial ini, stamina kedua pemain benar-benar berada di ujung tanduk, keduanya terlihat sangat kelelahan. Gemuruh dan sorak-sorai penonton mampu mengantarkan Gregoria meraih championship point sebelum akhirnya memenuhi tekadnya untuk menjadi juara dengan skor akhir 21-13, 13-21, 24-22.

Perjuangan Gregoria memang patut diapresiasi. Ia harus jatuh-bangun mengais poin demi poin di laga yang berlangsung di partai terakhir itu. Stamina memang terkuras, poin memang kerap tertinggal, namun Gregoria mampu menutup kiprahnya di level junior dengan sangat apik. Di kesempatan terakhirnya mengikuti WJC tahun ini, Gregoria sukses mengakhiri kisah juniornya dengan menyumbangkan medali emas, mengangkat trofi, berdiri di podium tertinggi, hormat menghadap sang merah putih sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama masyarakat Indonesia yang bangga menyaksikan perjuangannya. 

@gambar3
Sumber: www.badmintonindonesia.org

 

Regenerasi Ganda Campuran
Selain ganda putra, nomor ganda campuran memang kerap menjadi andalan Indonesia. Di ajang WJC, ganda campuran menyumbangakan medali emas terbanyak, bahkan menciptakan tiga kali all Indonesian finals. Di tahun 2011, Alfian Eko Prasetya/Gloria Emanuelle Widjaja sukses menjadi kampiun setelah menang atas Ronald Alexander/Tiara Rosalia Nuraidah. Di tahun berikutnya, giliran Edi Subaktiar/Melati Daeva Oktaviani yang berhasil menjadi juara dunia junior usai mengalahkan Alfian Eko Prasetya/Shella Devi Aulia di babak final.

Selang empat tahun, Indonesia sukses mempertemukan dua wakil ganda campurannya dia babak final WJC 2017. Kali ini, Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti ditantang racikan dadakan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari. Perang saudara berlangsung seru. Lebih diunggulkan, Rehan/Fadia ingin melengkapi gelar juara Asia juniornya tahun ini dengan juara dunia junior. Tampil solid, Rehan/Fadia membuka game pertama dengan keunggulan tipis melalui adu setting, 23-21.

Setelah merebut game kedua, Rinov/Pitha memberikan perlawanan sengit di game penentuan. Pertandingan berjalan dengan penuh tensi seiring dengan kejar-mengejar poin di antara kedua pasangan. Kondisi kesehatan Fadia yang memburuk memainkan perasaan dan emosi keempat junior Indonesia yang tengah berhadapan. Cedera yang dialami Fadia nyatanya tak membuatnya patah semangat meskipun pada akhirnya Rinov/Pitha lah yang mampu tampil dengan lebih tenang dan sukses menjadi juara. 

Sekali pun partai final itu mempertemukan sesama pemain Indonesia, kedua ganda campuran junior tersebut menyajikan pertandingan yang menarik. Baik Rinov/Pitha maupun Rehan/Fadia sama-sama mengeluarkan teknik yang apik. Tiga kali all Indonesian finals di nomor ganda campuran di ajang WJC tentu menjadi sinyal yang cukup baik bagi regenerasi di sektor ini. Ini lah tantangan bagi Indonesia untuk mempertahankan pencapaian ini dan meneruskannya di level senior.

@gambar4
Sumber: www.badmintonindonesia.org

 

Jangan Diperam, Berikan Kesempatan
Belajar dari pengalaman, banyak pemain Indonesia yang cukup moncer di level junior, namun melempem saat bermain di kelas senior. Jika diamati, para medalis WJC dari Indonesia tidak menunjukkan performa dan prestasi yang “wah” saat terjun di turnamen senior. Sebut saja ganda campuran yang tampil di babak final WJC 2011 dan 2012 yaitu Alfian, Gloria, Ronald, Tiara, Edi, Melati, dan Shella; di antara nama-nama tersebut, belum ada satu pun yang menjuarai turnamen level superseries. Prestasi terbaik mereka baru beberapa gelar di turnamen Grand Prix (Gold), bahkan ada yang sama sekali belum mencicipi gelar di level tersebut.

Sama halnya di sektor lain, medalis WJC seperti Rosyita Eka Putri Sari, Masita Mahmudin, Muhammad Rian Ardianto, Anggia Shitta Awanda, Yulfira Barkah, Fachriza Abimanyu, Clinton Hendrik Kudamassa, Chico Aura Dwi Wardoyo, dan beberapa nama lainnya juga belum pernah berdiri di podium turnamen level superseries. Dari nama-nama tersebut pun baru Rosyita, Anggia, dan Muhammad Rian yang pernah menjuarai turnamen kelas GP(G).

Hasil yang cukup baik ditunjukkan mantan junior tunggal putra. Anthony Sinisuka Ginting yang saat junior meraih medali perunggu Youth Olympic Games dan WJC 2014 sudah mampu menjadi kampiun Korea Open Superseries 2017 dengan mengalahkan Jonatan Christie di babak final. Selain itu, Ginting juga membawa tim putra Indonesia menjuarai Badminton Asia Team Championships dan menjadi finalis Thomas Cup 2016.

@gambaar5
Sumber: www.badmintonindonesia.org

Jonatan yang waktu junior telah dua kali mengantarkan tim beregu Indonesia melaju ke final Suhandinanta Cup telah meraih medali emas SEA Games 2017. Sedangkan Ihsan Maulana Mustofa, peraih medali perunggu WJC 2013 meskipun belum mendapatkan gelar individu yang membanggakan, namun bersama Ginting dan Jonatan, turut membela tim putra Indonesia di Badminton Asia Team Championships dan Thomas Cup 2016.

Sementara itu, Apriyani Rahayu, peraih medali perak ganda putri di WJC 2014 dan perunggu ganda campuran WJC 2015 sukses mencicipi gelar superseries di French Open 2017 bersama seniornya, Greysia Polii. Apri menjadi pemain Indonesia termuda yang menjuarai turnamen kelas superseries. Apri yang saat ini tengah dimatangkan bersama Greysia juga menjadi runner up Hong Kong Open Superseries 2017.

Adapun alumni junior yang menunjukkan progres dan prestasi yang membanggakan adalah Kevin Sanjaya Sukamuljo. Peraih medali perak ganda campuran WJC 2013 ini telah mengantongi 10 gelar superseries bersama Marcus Fernaldi Gideon. 

Sosok seperti Kevin, Apriyani, dan Ginting adalah gambaran bagaimana mereka sebenarnya mau dan mampu diberi kesempatan dan kepercayaan untuk berbicara lebih banyak di level yang lebih tinggi. Bakat dan skill Kevin memang tidak diragukan lagi, namun kesempatan yang didapatkannya untuk bertanding di turnamen superseries telah membentuk jiwa dan karakter juara yang kuat. 

Sedangkan Apri adalah rising star di mana pelatih ganda putri mulai mempercayainya untuk tampil di kelas yang lebih tinggi. Kini, bersama Greysia, Apri diproyeksikan menjadi andalan ganda putri Indonesia untuk meraih gelar-gelar bergengsi. Sementara Ginting, Jonatan, dan Ihsan yang sebenarnya mampu bersaing di level dunia, harus mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk berlaga di turnamen-turnamen penting.

Melihat hasil WJC 2017, sebenarnya Gregoria, Rinov/Pitha, dan Rehan/Fadia sudah sepatutnya langsung diberikan banyak kesempatan untuk mencicipi panggung yang lebih kompetitif. Selain untuk melihat sejauh mana konsistensi mereka, mengirim pemain muda ke turnamen-turnamen strategis sejatinya dapat menempa mental dan semangat juang. Terkait konsistensi, dapat dilihat bagaimana Gregoria cukup kewalahan menghadapi Cai Yanyan di Macau Open 2017. Bermain tiga set, tampak jelas Gregoria masih bermasalah dengan staminanya. Cai Yanyan yang dikalahkan Gregoria di WJC 2017 justru mengalahkannya dan keluar sebagai juara Macau Open 2017. 

Beberapa junior Tiongkok dan Korea yang ambil bagian di WJC 2017 sudah dicoba untuk turun di China Open Superseries Premier dan Hong Kong Open Superseries 2017. Sementara itu, Gregoria masih harus berjibaku di Malaysia International Challenge (IC) 2017 dan terhenti di babak kedua. Sebenarnya poin yang dimiliki Gregoria bisa membawanya untuk langsung berlaga di babak utama turnamen superseries di Asia Timur, namun ternyata tim pelatih lebih memilih turnamen level IC untuk Gregoria. 

Pasca WJC 2017, seharusnya Rinov/Pitha dan Rehan/Fadia sudah mulai dicoba untuk tampil di turnamen level senior. Terdapat banyak turnamen level GP(G) yang bisa menjadi ajang bagi mereka untuk membangun kepercayaan diri. Namun, Indonesia International Challenge 2017 lah yang menjadi laga untuk mereka lakoni. Pada turnamen yang berlangsung di Semarang itu, Fadia sukses melangkah ke babak final di dua nomor. Bersama Rehan, Fadia juara di ganda campuran dan bersama Agatha Imanuela, Fadia menjadi runner up. Rinov yang berpasangan dengan Angelica Wiratama, terhenti di babak perempat final. Pitha yang bermain di ganda putri kandas di babak kedua.

Jika melihat hasil turnamen yang diikuti para junior Indonesia usai WJC 2017, konsistensi mereka memang belum terbangun dengan sempurna, namun sebenarnya mereka berpeluang untuk melangkah jauh di turnamen dengan level yang lebih tinggi. Sebut saja Fadia yang berpotensi berprestasi di ganda putri dan campuran. Bermain rangkap terbukti meningkatkan kecakapan Fadia mengatur strategi dan mengolah bola di depan net. Bagi Gregoria, teknik dan skill yang dimilikinya sudah cukup mumpuni, tinggal stamina yang masih harus ditempa lagi.

Sangat disayangkan jika juara dunia junior dan para medalis WJC dari Indonesia tidak segera diberi kesempatan untuk berkembang dan berprestasi. Belajar dari Tiongkok yang punya sederet juara dunia junior yang sukses mengkonversikan gelarnya di level senior, belajar dari Jepang dengan Nozomi Okuhara-nya, belajar dari Denmark dengan Viktor Axelsen-nya, atau bahkan Thailand dengan Ratchanok Intanon-nya; tentu Indonesia juga bisa. 

Kita memang belum melihat hasil yang menggembirakan dari para alumni WJC enam tahun terakhir. Antara kurangnya motivasi dari pribadi pemain dan “salah asuh” dari tim pelatih memang harus dipetakan dengan jelas. Harapannya, pemain yang paham bagaimana posisinya akan bersinergi dengan tim pelatih yang juga mengerti harus “diapakan” pemain tersebut. Tim pelatih memang harus rajin mengikutsertakan pemainnya ke banyak turnamen, namun juga harus lebih jeli memilih turnamen mana yang strategis dan berpeluang besar untuk dimenangkan.

Seiring dengan pembagian turnamen ke dalam beberapa grade dan level di tahun 2018, Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) beserta jajaran tim pelatih harus lebih cerdas dalam mengirim pemainnya, terlebih untuk para junior dan pemain muda yang nantinya akan meneruskan tongkat estafet prestasi bulutangkis Indonesia. 

@gambar6
Sumber: www.badmintonindonesia.org

Para alumni WJC enam tahun terakhir memang belum memberikan kebanggaan yang luar biasa kepada masyarakat Indonesia. Namun, kita bisa mendoakan dan mendukung mereka untuk mulai berprestasi bersama juara dunia junior tahun ini. Sebagian penghuni Pelatnas Cipayung adalah mereka yang dulunya pernah membela Indonesia dan berprestasi di WJC. Di tangan mereka lah masa depan bulutangkis Indonesia berada. Komitmen pemain dan kecerdasan PP PBSI beserta tim pelatih dalam mendidik pemain termasuk memilih turnamen yang akan diikuti pemain, akan menciptakan suatu sinergi yang dapat mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia. (WBW/BT).

News